Jumat, 16 November 2012
Sejarah Yang Abadi...Hijrah
Kamis, 15 November 2012
BROSUR HAJI PLUS & UMROH PT. GEMA SHAFA MARWA
Risalah Kehidupan...
Rabu, 14 November 2012
Mitos Tentang Peran Ayah...:)
Sebentar lagi akan menjadi ayah? Hm, pasti membanggakan. Tapi juga barangkali membingungkan, karena selama ini Anda sudah mendengar banyak mitos tentang bagaimana seharusnya menjadi ayah yang baik. Yuk, kita simak satu persatu mitos yang kerap didengar dan bagaimana fakta sesungguhnya. Yakin, deh, Anda bisa menjadi ayah teladan bagi si kecil dan keluarga tercinta. Mitos 1: Yang penting, perasaan calon ibu Selama kehamilannya, perubahan tubuh pasangan akan terlihat mengagumkan, yang membuat Anda berpikir, saat ini yang terpenting adalah perasaan yang dirasakan oleh istri serta keadaan fisik dan kesehatan mentalnya. Padahal, perasaan Anda sebagai ayah juga penting. Mudah bagi calon ayah yang sedang menanti kelahiran anaknya untuk membicarakan hal-hal positif tentang bagaimana menjadi seorang ayah. Yang lebih sulit adalah mengungkapkan perasaaan takut atau cemas yang pasti juga dirasakan. Misalnya, apakah saya akan pingsan pada saat istri melahirkan? Apakah akan terjadi komplikasi medis? Bagaimana perubahan hubungan dengan pasangan? Dapatkah saya melanjutkan karier saya dan menjadi ayah yang saya cita-citakan? Pasangan Anda perlu mendengar dan mengetahui apa yang Anda rasakan. Katakan dengan jujur. Banyak suami yang menyimpan kegamangan terhadap kehamilan atau menjadi seorang ayah karena mereka tidak ingin menambah kekhawatiran yang dirasakan oleh istri mereka. Jangan takut! Kebanyakan wanita mengharapkan interaksi dari Anda dan mereka tahu bahwa menjadi seorang ayah merupakan tantangan. Membagi perasaan takut Anda dengan istri justru akan mendekatkan hubungan Anda berdua. Anda pun dapat berbincang-bincang dengan calon ayah lainnya, membaca buku, atau menghadiri seminar mengenai ini. Biarkan diri Anda dan pasangan mengekspresikan perasaan gembira dan ketakutan Anda berdua. Mitos 2: Bayi tidak terlalu memerlukan ayahnya Kedekatan hubungan antara pasangan Anda dan sang bayi, terutama bila dia menyusui, membuat Anda tidak yakin, apakah si bayi memerlukan Anda atau tidak. Percayalah, si kecil tetap memerlukan ayahnya. Anda merupakan seseorang yang penting di dalam kehidupannya dan berada bersama Anda membuat rasa nyaman baginya. Untuk terikat dengan si kecil, Anda harus menggendongnya, mencium, dan membelainya. Dan begitu bayi Anda sudah mulai makan, Anda akan mendapatkan perhatian penuh darinya. Bergantian dengan pasangan memberinya makan atau bermain dengannya, memberikan waktu kepada pasangan untuk beristirahat, dan memberikan kesempatan kepada istri untuk mengembalikan energinya. Jangan lupa, Anda membuat perubahan di dalam keluarga Anda. Mitos 3: Pria tidak tahu cara merawat anak Hal ini tidak benar, dan membuat para ayah tidak memiliki hubungan yang dekat dengan bayi mereka, sekaligus menyebabkan kekhawatiran yang tidak perlu bagi para ibu baru karena merasa takut pasangan mereka tidak dapat merawat buah hati yang baru lahir. Pada kenyataannya, ayah dapat merawat anak-anaknya. Setiap orang dapat belajar menjadi seorang ayah. Bila Anda meluangkan waktu bersama si kecil, Anda pun akan peka terhadap kebutuhan mereka. Untuk membuktikannya, biarkan istri pergi berbelanja agar Anda dapat mengurus buah hati sendirian. Biarkan istri tahu, Anda dapat merawat si kecil.
Baca Selengkapnya......--Aku Mencintaimu Karena Allah--
Bermula dari sebuah hadits Rasulullah SAW : “Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim) Sungguh perkataan mulia itu dapat membuat hati kita orang-orang beriman saling terikat dan saling mencintai sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri… Sehingga bagi setiap kita yang belum memiliki perasaan cinta kepada saudaranya semuslim maka kita perlu memperbaiki keimanan kita. Dengan mencintai saudara maka Allah akan menyempurnakan keimanannya… Nuansa kemesraan yang kita rindukan tampak di sekitar kita…saling mengucapkan salam islami dan berkasih sayang. Maka kita perlu mengambil hikmah dari firman Allah SWT : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran : 159) Di ayat lain Allah memberikan pesan kepada kita bahwa seandainya saja kita membelanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi untuk menyatukan hati orang beriman niscaya tidak akan pernah terwujud tanpa kehendak dan rahmat Allah. Pilihlah kata dan kalimat terbaik untuk saudaramu…bagaimana Rasulullah bertutur kata mesra dengan istri, putra, dan sahabatnya….mungkin juga karena bangsa Arab saat itu senang sekali membuat syair sehingga perasaan mereka dan tutur kata mereka lembut. Maka ajarkanlah diri kita dan anak-anak kita menyukai syair atau puisi…karena dapat melembutkan perasaan… Maka sungguh…aku mencintaimu karena Allah…. Yan Hidayatullah
Baca Selengkapnya......2 Tipe Pemimpin
Bila seseorang mengetuk pintu rumah, lalu mengajak anda ke ladang, mengajari anda cara mencangkul penuh semangat, bersama-sama menebarkan benih biji-bijian dan kasih sayang, menyenandungkan lagu pengundang angin dan hujan, dan beberapa bulan kemudian sama-sama mengetam, berbagi hasil tuaian, menanaknya untuk warga sedusun; maka siapa pun nama orang itu, anda akan mengangkatnya sebagai pemimpin sejati anda; pemimpin yang anda cintai dan tangisi kepergiannya. Namun, bila orang itu memasuki rumah dan memaksa anda turun ke sawah, memerintahkan anda membajak dan menanam segala macam, hingga pada akhir waktunya, hanya menunggu persembahan hasil panen baginya; maka siapa pun nama orang itu, anda akan mengangkatnya sebagai pemimpin yang hanya bisa anda kutuki dan syukuri kepergiannya. Kebanyakan orang memang tak berdaya. Untuk itulah mengapa seorang pemimpin sejati senantiasa dirindukan jaman.
Baca Selengkapnya......Pelajaran Hari Ini : Semakin Takjub dg Ke-MahaHebatan Allah Menentukan Takdir Terbaik…:)
Pelajaran ini saya dapat dari sepenggal perjalanan kehidupan saya (dan istri yg kucinta…hehehe) hari ini. Hmmm…ya hanya sekilas peristiwa tapi sejuta makna. Ga lebay kan…bener ini mah. Malamnya kami memutuskan untuk jalan-jalan berkunjung ke (MPI) Majelis Percikan Iman asuhannya Ust Aam Amiruddin…dan lanjut berkunjung ke Pesantren Daarut Tauhid….Road Show dengerin Tausiah judulnya… Singkatnya pagi2 skitar jm 06.00 kami berangkat mnggunakan mobil (bertiga saja…plus yg diperut istriku).Ya selanjutnya begitulah perjalanan di kota Bandung…ga kalah macetnya…dan Allah pun Memiliki Kehendak. Ya…namanya klo nyetir trus macet agak-agak kesal juga…Tp bs dilalui dg santai saja. Sekira satu jam perjalanan dr Jatinangor sampailah kami di komplek Masjid Telkom tempat biasanya pengajian MPI berlangsung.Uppss….ko sepi ya??Usut punya usut, ternyata pada pekan tertentu MPI pindah ke Masjid Ukhuwwah jalan wastukencana….Lagi-lagi Allah punya Kehendak-Nya sendiri. Ok… setelah bermusyawarah kembali (plus ada oknum ketiga namanya Nugroho Adinegoro…yg ikut janjian juga), kami memutuskan utk lgsg mnuju Pesantren Daarut Tauhid. Alhamdulillah, dari MPI memang tidak jauh ke DT…jd ya skitar 10 menit perjalanan. Aktivitas lalu lalang di sekitar DT sdh mnyambut kami. Subhanallah sudah lama tak berkunjung ke DT… baru sadar ternyata rindu jg jaulah ke pesantren ini. Eitss…lihat ke sebelah kiri ada bangunan yg sedang di renovasi. Wahh…..ternyata masjid DT. Saya dan istri saling menatap dan melepas senyuman. Sekali lagi Allah tunjukan bahwa kami tak tahu apa2 ttg masa depan. Akhirnya, dari pada hanya sekedar numpang lewat. Kami memutuskan utk parkir di pesantren dan melihat-lihat lingkungan DT sambil berjalan kaki. Allah tak pernah tidur utk menolong para mu’min yang menolong agama-Nya. Ternyata pesantren ini senantiasa berkembang. Tidak lama setelah berkeliling kendaraan kami pun meluncur utk segera pulang. Kami merencanakan perkiraan waktu utk kembali krn sore harinya saya ada pekerjaan bersama kelompok tani binaan. Setelah sampai dirumah, baru saya sadar betapa Allah menetapkan Takdir yg paling baik bagi setiap hamba. Mungkin jk kami menjalankan sesuai apa yg kami rencanakan di awal, saya tdk terkejar utk mengerjakan perkejaan lainnya. Sedang pekerjaan itu adalah amanah. Dan Allah telah membuat kami bahagia karena pekerjaan yg lainnya pun dapat terselesaikan dengan baik. “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216) Ahad, 29 Mei 2011 dari Bandung Yan Hidayatullah….
Baca Selengkapnya......Nasihat Dari Ibu Untuk Ibu
Seorang anak kecil, mendadak terpana melihat ibunya yang sedang kerja di dapur. Sepertinya, anak itu baru menyadari adanya satu dua helai rambut di kepala ibunya yang ternyata berwarna putih. Dan hal itu terlihat lebih kontras apalagi dengan melihat warna kulit ibunya yang sawo matang (maklum orang asia tenggara), ditambah lagi dengan warna baju yang sedang dipakai oleh ibunya itu (kebetulan warna gelap). Lalu anak itu tanya, “Ma … kenapa rambut Mama kok ada yang putih ?” Mendengar pertanyaan tsb, ibunya langsung menjawab tanpa berfikir dulu, “Oh ini … sebenarnya warna rambut mama hitam lho …. tapi kalau pas anak mama nggak mau nurut, atau rewel, atau kalau disuruh bantu mama malah nggak mau, atau malah ribut terus …. nah … mama jadi pusing jadinya. Makanya satu persatu rambut mama jadi putih …” , jawabnya. Mendengar jawaban ini, sang anak yang memang masih polos itu terdiam sebentar. Tapi setelah berfikir sebentar, lalu malah balik tanya lagi, “Lho … terus …. kenapa rambut nenek putih semua ?” -> Berhati-hatilah dalam menasehati anak >>Ikrimah Muhammad Jundullah<<
Baca Selengkapnya......Begitulah Murabbiku...
Oh…alangkah bahagia Oh…alangkah mulia Hari ini aku kisahkan Aku…dan di sisiku Murabbi… Seperti Rasul… Bersama-sama nikmati satu santapan Begitu murabbiku… Duduk bersama jamah satu hidangan Seperti Rasul… Bersama-sama berbantalkan lengan Begitu murabbiku… Bersama-sama tidur atas satu hamparan Seperti Rasul… Turut bersama gali paritan Begitu murabbiku… Sentiasa seiringku lakukan tugasan Seperti Rasul… Paham segala dalaman luaran Begitu murabbiku… Segala pemikiran tekun menjelaskan Seperti Rasul… Membina syuhada, pemuda pahlawan Begitu murabbiku… Dibina aku lengkap perincian Seperti Rasul… Marah, senyum, sedih selalu memberi kesan Bagitu murabbiku… Memberi taujih sesuai perasaan Seperti Rasul… Menyucikan, memahamkan, lantas menggerakkan Begitu murabbiku… Diasuh aku jadi asas kebangkitan Seperti Rasul… Menghormati tidak menghinakan Bagitu murabbiku… Di sampingnya aku, terasa dimuliakan Yang lahir bukan sekedar hartawan Yang lahir bukan sekedar agamawan Yang lahir bukan sekedar negarawan Yang lahir bukan sekedar tokoh kemasyarakatan Yang lahir bukan sekedar jago kebajikan Yang lahir bukan sekedar olahragawan Yang lahir bukan sekedar tokoh perdebatan Tapi….RIJAL…. Dengan mereka Islam diagungkan Oh…alangkah bahagia Oh…alangkah mulia Ketika itu… Aku….dan di sisiku… Murabbi… (kutipan dari seorang ikhwan di Malaysia)
Baca Selengkapnya......Manusia Bangkrut
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, memberitahukan bahwa di akhirat kelak ada orang yang bangkrut. Siapakah dia? Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta.” Maka beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan (membawa pahala) shalat, puasa, zakat, namun dia pernah mencela orang lain, menuduh orang berzina tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka kabaikannya akan diberikan kepada orang yang didzaliminya, dan apabila kebaikannya itu telah habis sebelum lunas tanggungannya, maka diambilah kejelekan orang yang pernah didzalimi, kemudian diberikan padanya, lalu dia dicampakkan ke neraka.”(HR. Muslim)
Baca Selengkapnya......--Apa Bisa Sarjana Pertanian Jadi Pahlawan--
Momentum Hari Pahlawan ini kita perlu melakukan refleksi perjalanan bangsa Indonesia dari masa ke masa. Sehingga muncul berbagai nama para pahlawan atau orang-orang yang dianggap pahlawan oleh bangsa Indonesia. Mulai dari pahlawan sebelum masa kemerdekaan hingga para pahlawan yang muncul pasca kemerdekaan. Atau sekumpulan nama-nama yang dianggap memiliki jasa yang banyak terhadap negeri tercinta Indonesia. Namun, sekali lagi kita perlu merefleksikan perjalanan bangsa kita hingga saat ini. Muncul pertanyaan dalam diri penulis, “kira-kira apa yang akan dikatakan oleh para pahlawan yang telah mendahului kita semua ketika melihat kondisi bangsanya saat ini yang dahulu mereka perjuangkan kedaulatannya?”. Apakah ucapan kebanggaan ataukah kekecewaan terhadap generasi penerusnya. Berkaca pada satu sektor yang menjadi andalan bangsa Indonesia mulai dari masa sebelum terbentuknya republik ini hingga gegap gempitanya slogan demokrasi dalam perjalanan republik Indonesia. Sector tersebut adalah sector pertanian yang dahulu sekitar tahun 1983 munculnya harapan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) berupa pertanian tangguh. Saat ini begitu banyak sarjana pertanian baik itu lulusan perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Namun, perkembangan sector pertanian tidak terlalu signifikan dan tidak sebanding dengan banyaknya lulusan bidang pertanian. Tetapi yang kita lihat sekarang adalah perkembangan sector pertanian yang lambat meskipun progress semenjak tahun 2004 mengalami perbaikan dalam hal swasembada beras, ditambah lagi banyaknya pengangguran sarjana pertanian akibat kurangnya lapangan pekerjaan yang dapat menampung para sarjana pertanian ataupun yang berkaitan dengan sector pertanian. Padahal menurut Ir. Rohajat Harun, M.Ed. Kepala Balai Informasi Pertanian tahun 1983 mendefinisikan pertanian tangguh itu dengan beberapa ciri, di antaranya dapat memberikan kehidupan dan penghidupan yang baik kepada petani sebagai produsen, mampu mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan sector pertanian, dan mampu menyediakan dengan teratur dan dengan mutu yang baik, segala bahan yang diperlukan oleh masyarakat. Sehingga ketika terjadi musim kemarau sector pertanian tidak klabakan menghadapi kekeringan karena pengembangan kegiatan ekonomi pertanian berjalan dengan baik. Sebuah evaluasi bagi pelaku pendidikan di bidang pertanian dan juga pemerintah terhadap efektifitas pendidikan di Indonesia sehingga dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang siap guna dan memiliki kreatifitas dalam mengembangkan kegiatan ekonomi khususnya di sektor-sektor real. Sehingga pengangguran di bidang pertanian dapat ditekan jumlahnya. Maka apabila kualitas pendidikan khusunya di bidang pertanian diperbaiki agar lebih aplikatif dan tepat sasaran dalam pembangunan pertanian dapat dipastikan akan memunculkan pahlawan-pahlawan baru di bidang pertanian. Seorang sarjana pertanian yang memiliki karakter pembangun dengan ide dan kreatifitas yang dapat menggerakan SDM lebih banyak dalam kegiatan ekonomi pertanian. Sehingga sektor pertanian di negera Indonesia dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang ada di negeri ini. Yan Hidayatullah WNP, STP
Baca Selengkapnya......Subhanallah….momentum lebaran yang saya kira hanya menghabiskan waktu libur di cilegon saja, tempat tinggal orang tua. Tapi ternyata hari senin 21 September 2009, tepatnya pukul 05.45 berangkat dari rumah di cilegon melakukan “Safari Lebaran”…itu istilah yang tercetus saat mau jalan. Kota yang pertama dituju adalah kota Bogor menengok uwa yang usianya sudah 80 tahun ke atas…Subhanallah, banyak hikmah yang bisa diambil. Uwa (istilah kakak dr ortu bg org sunda)…uwa Uka…seorang Profesor ahli arkeologi yang sangat produktif…meskipun kondisi fisik hanya dapat berbaring dan berjalan menggunakan kursi roda, tetapi masih sempat membuat paper dan 1 buku…DAHSYAT…(ternyata saya punya uwa yang luar biasa) Setelah dari Bogor lanjut ke Bekasi berkumpul dengan saudara2 yang menyenangkan…dilanjut lagi ke Karawang, trus ke Indramayu menengok uwa yang lain lagi…Nah saat menulis ini saya di Indramayu…tidak sengaja saya tertarik untuk membaca Koran yang udah “kadaluarsa” juga sih…Koran TRIBUN JABAR tanggal 19 September 2009. Saya baca beberapa berita seputar suasana yang ada saat lebaran…”Nagrek-Garut 6,5 jam”…wow…”Lewat Cijapati Pun Sama Macetnya”…ada lagi nih…”Pemudik Tengok Rumah Lokasi Penggerebekan Nurdin M Top”…Hmmm…sempet-sempetnya ya..eit ada lagi…”Emi Nekat Naik Tower 24 Meter, Putus Asa Kehabisan Bekal Uang Mudik”…MasyaAllah… Langsung terlintas dalam fikiran membuka kitab tafsir Al-Maragi (karya Ahmad Mustafa Al-Maragi) jilid 1 yang saya bawa untuk menemani perjalanan…Langsung saya membuka tafsir Alqur’an Surat Al-Baqarah ayat 186… Nah…ini inti tulisan saya…memahami tafsir Q.S. Al-Baqarah : 186 dari salah satu Mufassir Mahsyur…TAFSIR AL-MARAGI (yaa…karena itu yang saya bawa)… Silahkan buka Alqur’an terjemah Surat Al-Baqarah : 186 (mudah2n bisa ya sambil fesbukan)… “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah : 186). Dalam ayat tersebut ada penggalan ayat “…la’allahum yarsyuduun”. Tafsir Al-Maragi menjelaskan : Ar-Rusydu dan Ar-Rasyad merupakan lawan kata Al-Ghayyu atau Al-Fasad. Artinya ialah mendapat petunjuk, tidak sesat atau rusak. Artinya ayat ini ialah, sesungguhnya segala amal perbuatan itu jika dilakukan oleh para pelakunya dengan penuh iman dan ikhlas, pelakunya bisa diharapkan mendapatkan petunjuk dan hidayah. Tetapi jika dilakukan hanya karena ingin mengikuti adat atau terbawa arus, maka tidak akan bisa menjadi petunjuk dan taqwa. Bahkan kadang-kadang akan mengakibatkan semakin hebatnya hawa nafsu bagi pelakunya, dan akhlaq pun menjadi rusak. Hal ini seperti yang dapat kita saksikan sekarang di kalangan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa hanya karena ikut-ikutan kepada orang tua dan teman-teman, bukan karena ikhlas kepada Tuhan atau mengharapkan ridha-Nya. Subhanallah…mentadabburi penggalan ayat tersebut yang hanya terdiri dari dua kata saja akan sangat berpengaruh dalam hidup. Karena Alqur’an adalah mu’jizat. Setiap bagian dari Alqur’an adalah mu’jizat. Jika kita saksikan beberapa berita yang saya baca di Koran TRIBUN JABAR tadi…banyak hikmah yang bisa kita ambil. Ternyata begitu banyak dari kita yang memang belum benar-benar memahami makna perintah dan hasil dari ibadah puasa….sampai-sampai ada yang nekat naik tower 24 meter hanya gara-gara kehabisan ongkos untuk mudik…. Semoga teman-teman fesbuk tidak ada yang nekat naik tower hanya gara-gara kehabisan ongkos buat mudik. Tetapi kita dapat memahami dan mengambil hikmah Ramadhan sebagai madrasah pembinaan diri sebagai seorang muslim yang dapat mengupayakan dirinya mencapai derajat taqwa… Klo nekat naik Monas buat rekreasi sih boleh aja…(malah klo bisa ngajak-ngajak ya…) Semoga bermanfaat…. Al-Fakir —Ikrimah Muhammad Jundullah— Yan Hidayatullah
Baca Selengkapnya......Tetaplah Di Sisiku
Ya Allah… Dimanakah ku harus berlabuh… Saat semua dermaga menutup pintu, Dan berkata “ ini bukan untukmu…” “Segera menjauh karna disini bukan tempatmu….!!!” Ya Allah… Katakan padaku, di mana dermaga untukku berlabuh…??? Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru. Sampai kapan ku harus arungi waktu,.. Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu,.. Ya Allah … Beri aku penerang jalan-Mu Agar tak tersesat saat ku melaju,.. Kuatkan awak kapalku, Saat badai menghalangi jalanku Ya Allah … Tetaplah disisiku, Jangan Engkau menjauh dariku… Karna ku takut tanpa hadir-Mu —Mutiara Hati Seorang Hamba—
Baca Selengkapnya......Selasa, 13 November 2012
-Sebuah Artikel Sederhana-
Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak
pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak buku ruang tamuku.
Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering kubaca. Dan satu kali
dalam satu tahun aku memandangi takjub maharku itu seperti ini…
Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air
hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah
kuhidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah kuganti.
Gorden telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah telah
kubersihkan.
”Kok senyum aja sih dari tadi?” suamiku menegurku. Aku hanya bisa
tertawa kecil. ”Nggak pa pa. Pingin sedekah aja. He he…” Suamiku
membalas seyumanku dan pergi mandi. Saat ditutup, kuamati pintu kamar
mandi itu…dan sekeliling rumah ini. Rumah kontrakan penuh kenangan.
Sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik kami karena pemilik
sebenarnya akan pindah ke luar kota dan menjualnya pada kami. Suamiku
pun bekerja lembur akhir-akhir ini untuk melunasinya.
Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya.
Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi terasa
sepi. Terdengar suara motor berderu melewati rumah kami sekali waktu.
Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dan sesekali tawa
mereka. Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah
dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak
berubah, masih seperti itu… kalem. Hmmm…dia masih dengan pendiriannya.
Subhanallah…
Pulang suamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring.
”Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek? Pantes
dari tadi senyum aja. Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level kan, dek?!
Nah, mendingan pijitin abang nih, abang capek banget hari ini.” Ha ha
ha… masih. Dari dulu emang manja bapak ini. Tapi tidak saat dia datang
ke rumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya bisa mendengar percakapan
hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku meragukannya. Yaaah, aku
rasa adalah hal yang wajar bila setiap orang tua ingin anaknya hidup
berkecukupan. Dan yaaah, memang untuk hidup di jaman sekarang, pekerjaan
suamiku yang tidak tetap mungkin tidak bisa mencukupi hidup kami nanti.
Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah, Allah
akan memudahkannya.
Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari
itu. Aku hampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk
tidak menjadi istri seorang yang sholeh seperti dia adalah suatu
kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarku dengan tersenyum
dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lama
hingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi
pengertian pada ayahku dan akhirnya meyakinkan beliau.
Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena
rumah yang dikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu
itu, ya rumah ini. Selama seminggu itu dia sibuk sekali. Entah apa saja
yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa khawatir di
wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu… nggak ada
apa-apanya.” Ia menatapku sendu. Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari
keluarga yang cukup berada. Hanya saja mungkin itu masalah harga diri
bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.
Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang… asalkan ada
ember biar adek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar
adek bisa ngejemur, asal ada api biar adek bisa masak buat abang, asal
ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asal ada
sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam
dan tempe, dan selang sehari kita shaum… insya Allah, itu bukan masalah
bagi adek.”
Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh… aku jadi
sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup
kita nanti. Dan aku telah menyatakan kesiapanku…insya Allah, aku
sanggup menghadapi apapun…asalkan bersamanya…
Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak
diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di
sana…Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari rotan
yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasa kulihat
di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku
itu memang dibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku
membaca buku. Wah, pantas saja aku tak melihat rak itu di rumah
akhir-akhir ini.
Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya
tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan
kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat tidur,
lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang kosong, untuk
kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari
ibuku dan ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah itu ada kamar mandi. Di
luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi plus tempat sampah. Di tempat
mencuci telah ada ember dan gayung. Semua jendela telah bergorden.
Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, ”Dek, abang
lupa beli tali sama paku buat jemuran.” Hi hi hi. Aku tertawa
cekikikan. ”Adek kira rumahnya bener-bener kosong nggak ada apa-apanya.”
”Yaaah… maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumah adek.” Hi hi
hi… abang.
Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti abang, yang
sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita
tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun fasilitasnya, asalkan
ada abang… hidupku udah lengkap.
(untuk pangeranku, datanglah pada ayahku dan jabatlah tangan beliau.
Katakanlah dengan bangga ”Sir, your daughter is in a good hand, insya
Allah.”)


